Tampilkan postingan dengan label #sangibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #sangibu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Oktober 2017

Mantra #10: Mantra Evokasi - Memohon Berkah dari Ibu Pertiwi

Rahayu Sagung Dumadi...

Halo, Witches? Lama tidak berkunjung ke sini. Wah, kayaknya beberapa tempat sudah mulai berdebu. Hahaha...
Oh ya, materi hari ini adalah kelanjutan dari materi yang terakhir, yaitu Mantra Evokasi Aradia. Kalau yang belum baca, sila klik tautannya ya.

Petang ini aku akan langsung saja ke materi ya, soalnya kuotanya menipis hahaha.. Jadi, petang ini aku akan berbagi pada kalian tentang mantra evokasi kepada Ibu Pertiwi. Mantra ini aku ambil dari Book of Shadows pribadiku, jadi mungkin ini akan/tidak akan sesuai dengan tradisi yang kalian tekuni.

Oh ya, sebelum memulai evokasi, sebaiknya kita memasang lingkaran suci, entah dengan energi metafisik, garam, pasir suci, pola gambar, atau air suci. Lalu kalian harus summon empat elemen dan empat penjaga langit. Lakukan ritual ini saat bulan purnama dan kalian harus berada di luar rumah, karena kita membutuhkan perapian yang cukup besar. Jangan lupa gambar sigil atau ilustrasi untuk terubung dengan Ibu Pertiwi di atas kertas. Berikut ini sigil dan ilustrasinya:
(1)

(2)
Sumber Gambar 1/2: Book of Shadows pribadi


Mantra Evokasi Pertiwi

Mantra ini dapat digunakan untuk mengkonjur suatu benda untuk mendapatkan berkah dari Ibu Pertiwi atau Dewi Pertiwi atau Ibu Bumi. Dalam hal ini, yang dikonjur adalah nasi (rice) dan kelapa (coconut), karena dua barang itu merupakan barang yang menurut legenda tercipta dari tubuh Sang Ibu.

Conjuring Rice (Mengkonjur Nasi):

"Oh, Ibu Pertiwi, berkahilah bulir-bulir nasi ini dengan kuasa yang engkau miliki. Jadikanlah bulir-bulir nasi ini sebagai sumber kekuatan kami seccara jasmani serta rohani"

Conjuring Coconut (Mengkunjur Kelapa):

"Oh, Ibu Pertiwi, berkahilah air kelapa ini dengan kuasa yang engkau miliki. Jadikanlah air ini sebagai pencuci diri kami dari luar ke dalam, dan menjadikan jiwa serta roh kami menjadi suci"


Untuk Evokasi Pertiwi, kita harus menyediakan nasi putih dan kelapa hijau. Nantinya, nasi dan air kelapa hijau tersebut hasus kita konsumsi setelah menyelesaikan evokasi.

Setelah kita mengonsumi nasi dan air kelapa hijau, masukkan gambar ilustrasi dan sigil ke dalam perapian. Lalu kita bisa menari-nari kecil sembari mengucapkan:

"Ibuku Bumi, saudaraku; tanah, air, udara, dan api"

Ucapkan mantra tersebut terus menerus sembari menari-nari. Nantinya kita akan merasakan energi meresap masuk ke dalam tubuh kita. Tandanya adalah sensai seperti merinding atau dingin/sejuk di bagian punggung. Saran, jika memilih melakukan ritual ini sendiri, kalian harus memasang pelindung yang berlapis-lapis jangan sampai ada gangguan. Usahakan tempat yang kalian pakai juga bersih dari gangguan. Akan lebih baik kalau ritual ini dilakukan bersama-sama, karena bersama-sama mantra evokasi akan semakin kuat.

Catatan yang harus kalian ingat, setelah rituak selesai jangan lupa hapus lingkaran, kembalikan para elemen dan penjaga penjuru ke tempat mereka. Jangan biarkan mereka tetap tinggal, karena itu akan menyebabkan masalah. Dan, tidak semua mantra atau ritual akan bekerja dengan baik untuk setiap orang. Semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.

Baiklah itu tadi yang dapat aku bagian, semoga bermanfaat. Terima kasih sudah hadir pada pertemuan kali ini. Dan akhir kata:

Rahayu Sagung Dumadi...

Kamis, 31 Agustus 2017

Mantra #9: Mantra Evokasi - Memohon Berkah Dewi Aradia

Merry meet, Namaste, Rahayu...

Petang ini aku akan langsung saja ke materi ya, soalnya kuotanya menipis hahaha.. Jadi, petang ini aku akan berbagi pada kalian tentang mantra evokasi kepada Ibu Pertiwi dan Aradia (Tapi untuk kali ini aku akan memberikan yang Evokasi Aradia dulu, ya? Haha). Mantra ini aku ambil dari Book of Shadows pribadiku, jadi mungkin ini akan/tidak akan sesuai dengan tradisi yang kalian tekuni.

Oh ya, sebelum memulai evokasi, sebaiknya kita memasang lingkaran suci, entah dengan energi metafisik, garam, pasir suci, pola gambar, atau air suci. Lalu kalian harus summon empat elemen dan empat penjaga langit. Lakukan ritual ini saat bulan purnama dan kalian harus berada di luar rumah, karena kita membutuhkan perapian yang cukup besar. Jangan lupa gambar sigil atau ilustrasi untuk terubung dengan Aradia dan Ibu Pertiwi di atas kertas. Berikut ini sigil dan ilustrasinya:


Sumber: koleksi pribadi


Sumber: koleksi pribadi


Evokasi Aradia

Conjuring a Bread:

"Oh, Bunda Aradia yang mencerahkan hidup kami, berkahilah kue bulan ini dengan segala kuasa yang engkau miliki.
Roti ini adalah dagingmu, biarlah daging menjadi sumber kehidupan kami.
Terpuji engkau Bunda bulan purnama."



Conjuring a Honey:

"Oh, Bunda Aradia yang mencerahkan hidup kami, berkahilah madu ini  dengan kuasa yang engkau miliki.
Air madu ini  adalah darahmu, biarlah darahmu membasuh kami dari dalam ke luar.
Terpuji engkau Bunda bulan purnama."

Untuk Evokasi Aradia, kita harus menyediakan kue (bisa terbuat dari apa saja) yang berbentuk bulan sabit dan air madu/anggur merah. Nantinya, roti dan air madu/anggur merah tersebut hasus kita konsumsi setelah menyelesaikan evokasi.

Setelah kita mengonsumi roti dan air madu/anggur merah, masukkan gambar ilustrasi dan sigil ke dalam perapian. Lalu kita bisa menari-nari kecil sembari mengucapkan:

"The Moon is my power and this Earth is my mother"

Ucapkan mantra tersebut terus menerus sembari menari-nari. Nantinya kita akan merasakan energi meresap masuk ke dalam tubuh kita. Tandanya adalah sensai seperti merinding atau dingin/sejuk di bagian punggung. Saran, jika memilih melakukan ritual ini sendiri, kalian harus memasang pelindung yang berlapis-lapis jangan sampai ada gangguan. Usahakan tempat yang kalian pakai juga bersih dari gangguan. Akan lebih baik kalau ritual ini dilakukan bersama-sama, karena bersama-sama mantra evokasi akan semakin kuat.

Catatan yang harus kalian ingat, setelah rituak selesai jangan lupa hapus lingkaran, kembalikan para elemen dan penjaga penjuru ke tempat mereka. Jangan biarkan mereka tetap tinggal, karena itu akan menyebabkan masalah. Dan, tidak semua mantra atau ritual akan bekerja dengan baik untuk setiap orang. Semuanya tergantung dari pribadi masing-masing.

Baiklah itu tadi yang dapat aku bagian, semoga bermanfaat. Terima kasih sudah hadir pada pertemuan kali ini. Dan akhir kata:

Blesseth be!

Jumat, 12 Mei 2017

Doa Altar #3: Doa Aradia

Puji Ilahi Agung, Bapa Angkasa,
Ilahi Mulia, Ibu Bumi...

Merry meet...

Apa kabar Wiccan, Witch, dkk? Semoga semuanya selalu dalam naungan Sang Bunda, blessed be...

Kali ini aku akan berbagi tentang Doa Altar yang dapat kalian jadikan referensi untuk memmbuat doa yang serupa atau melakukan ritual yang sama seperti yang aku lakukan. Doa Altar kali ini adalah Doa Altar yang ketiga setelah Doa Altar 1 dan Doa Altar 2 yang aku posting beberapa waktu yang lalu.

Oh ya, Doa Altar 3 ini aku dedikasikan kepada Aradia; titisan Diana, Guru besar para Penyihir. Bagi kalian yang menjadi pemuja Aradia, kalian bisa menjadikan doa ini sebagai referensi. Tapi kalau kalian memuja Dewi lain, semisal: Hekate, Diana/Artemis, Luna/Selena, Athena/Minerva, dll, kalian bisa menyesuaikan doanya sesuai dengan Dewi yang kalian puja. Berikut ini doanya:

"Wahai ilahi yang di surga, Dewi Aradia yang mulia. 
Engkaulah Ibu dari segala kemuliaan dan kekuatan, ilmu sihir dan cahaya, malam dan bulan, serta perlindungan dan kesembuhan.
Engkau hadirkan kesucian serta kemuliaan di tanah kami yang telah menjadi surga bagi kami. 
Engkau hadir di dalam setiap anakmu di bumi ini.
Wahai Pengembara Jelita, Guru Besar para Penyihir; engkau kekuatan bagi kami, engkau mencurahkan kekuatanmu kepada kami.
Semoga kemuliaan, kebijaksanaan, dan kekuatanmu terus memberkati kami.
Amin!"

Mungkin sebagian besar dari kalian kurang mengenal nama Aradia sebagai salah satu deitas yang membawa aspek Witchcraft. Mungkin kalian lebih mengenal Sang Ibu, Diana yang juga membawa aspek yang serupa dengan Aradia. Tentu saja demikian, karena Aradia adalah titisan dari Diana, seperti yang kusebutkan di awal tadi. Diana lahir ke dunia manusia melalui rahim seorang wanita.
Aradia menjalani hidup yang berat di mana dia terus menghadapi pertentangan antara keinginan hatinya dengan keinginan orang tuanya. Dia bekata kalau dia ingin mempunyai banyak anak seperti anak-anak burung dalam sarang yang ada di atas pohon yang dia temukan pada suatu hari. Akan tetapi, ibunya menginginkan dia untuk menjadi biarawati di gereja besar. Hingga akhirnya Aradia pun bertemu dengan seorang wanita yang berdoa kepada Diana di halaman rumahnya. Orang itu mengatakan kalau Diana adalah IBU yang sejati  dan Dia akan membantu setiap anaknya yang meminta pertolongan.
Dengan bantuan sepupunya, Aradia yang semula dikurung gara-gara keluar tengah malam dan berbicara pada orang pagan, memutuskan untuk melarikan diri. Aradia pergi ke padang rumput di mana banyak kunang-kunang yang beterbangan. Saat Aradia mendongak ke atas, dia mendapati bulan tampak begitu dekat di atas kepalanya. Bulan berbicara dan berkata kalau Dia adalah Diana, Sang Ibu.
Dari situ Diana berkata kepada Aradia bahwa Aradia itu adalah titisannya, dan Aradia dilahirkan ke dunia mengemban tugas sebagai tangan, kaki, dan lidah bagi Diana. Sejak saat itu, Aradia belajar banyak hal dari Sang Ibu; mulai ilmu pengobatan hingga ilmu sihir. Dan Aradia mulai mengembara ke berbagai tempat untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas, membebaskan para budak, menyembuhkan orang yang sakit, dan juga mengajarkan ilmu sihir pada siapa pun yang berguru padanya.
Kemahsyurannya ini membuat kaisar merasa takut, dia ditangkap dan dipenjarakan. Dia tidak gentar, sebab dia memiliki Ibu yang luar biasa. Dia pun berdoa kepada Diana untuk memohon pertolongan, dan saat cahaya bulan menembus ventilasi penjara dan menyinari seluruh tubuh Aradia, Pengembara itu lenyap seperti embun yang menguap di pagi hari.

Itu tadi penggalan kisah dari Aradia yang aku ambil dari sebuah buku berjudul "Aradia, Gospel of The Witches" karya Charles Le Land. Karena buku itu berbahasa Inggris, jadi aku menceritakan ulang kisahnya sesuai dengan apa yang aku pahami saja. Kurang lebih kisahnya ya, seperti di atas itu.

Baiklah, terima kasih sudah singgah di Biara Wicca. Semoga segalanya menjadi bermanfaat untuk kita semua.

Puji Iahi Agung, Bapa Angkasa,
Ilahi Mulia, Ibu Bumi...

Kamis, 02 Maret 2017

Doa Altar #1: Doa Ibu Agung (Sang Hyang Ibu Pertiwi)

Salam kepada Empat Penjaga Langit dan Dua Ilahi: Bapa Angkasa dan Ibu Bumi... Blessed be!

Selamat sore, Wiccan? Apa kabar malam jumat ini? Semoga selalu dilimpahi kemuliaan.

Sore ini, aku akan berbagi kepada kalian seperti biasanya, tapi kali ini yang aku bagikan bukanlah mantra ataupun petuah-petuah, melainkan sebuah doa pemujaan, lebih tepatnya adalah Doa Altar. Bagi kalian yang baru bertemu dengan blog ini dan belum tahu apa itu Doa Altar, supaya kalian nggak repot obok-obok blogku, silakan klik di sini.




Sebelum melakukan Doa Altar, usahakan kalian dalam keadaan bersih yaaa... Karena lazimnya doa ini dilakukan pagi hari, usahakan kalian suah mandi yaaa... Kenapa mesti mandi dulu sih, min? Yah, masa mau menghadap pada Sang Ibu kita dalam keadaan tidak bersih. Kalau pun tidak mandi, ya minimal cuci muka, tangan dan kaki ajalah...

Setelah kalian membersihkan diri, siapkan altar kalian kalau altar kalian adalah altar bungkar pasang. Tapi kalau kalian punya altar tetap, silakan nyalakan lilin dan dupanya. Kalau di altar kalian ada genta atau lonceng, silakan bunyikan tiga kali. Bunyi genta atau lonceng adalah pertanda ritual akan dimulai sekaligus menetralkan energi yang ada di ruangan kalian.

Selanjutnya, yang harus kalian lakukan adalah membaca Mantra Salam Altar dengan mengikuti mantra yang ada di link (tertera) atau kalau kalian punya mantra sendiri, jangan ragu untuk menggunakannya. Adapun tujuan membaca mantra tersebut adalah untuk mengundang Empat Penjaga Langit guna menjadikan mereka sebagai saksi dan juga pendamping kita saat ritual berjalan.

Apabila kalian sudah selesai membaca Mantra Salam Altar, kalian bisa membaca doa berikut ini:

"Wahai Ibu Agung kami yang hadir di antara kami semua. Kesucian-Mu hadir di dunia kami di sini. Kami merasakan kehadiran-Mu begitu dekat di bumi, yang merupakan surga hidup kami. Ajarilah kami hari ini untuk memanggang roti kami dan menerima kemanusiaan kami sebagaimana kami menerima sesama kami tanpa adanya batasan. Bimbinglah kami menuju ketidakterikatan dan perkuatlah kami menuju kebebasan. Untuk kami: udara ini, api ini, air ini, bumi ini, untuk selama-lamanya"

Doa di atas merupakan versi bahasa indonesia dari mantra yang aku dapatkan dari website ini. Kalau kalian ingin menggunakan doa yang kalian buat sendiri atau doa di  atas, just feel free to use it.
Atau kalau kalian ingin memakai doa yang aku buat juga nggak apa-apa. Berikut ini doanya:

Bait 1: "O Ibu Agung kami, hadirkanlah kuasa-Mu dalam perkataan, perbuatan, dan karya-karya kami. Sebagaimana itu adalah kuasa-Mu, jadikanlah perkataan kami bagai senjata, perbuatan kami bagai peribadatan kami, dan karya-karya kami menjadi pengabdian kami kepada-Mu"

Bait 2: "Jauhkanlah kami dari segala kejahatan yang tampak, yang tidak tampak, yang datang bersama gelapnya malam"

Bait 3: "Muliakanlah hidup kami, nama kami, sebagaimana Engkau kami muliakan. Kabulkan yang kami harapkan, wujudkan yang kami inginkan"

Bait 4: "Ampunilah dosa kami yang tak terhitung, ampuni pula mereka yang berosa pada kami sebagaimana Engkau mengampuni kami"

Bait 5: "Berikanlah kepada kami yang patuh kepada-Mu: hari yang baik, rizki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, dan kesehatan yang berharga"

Bait 6: "Hanya kepada Engkaulah kami menyerahkan jiwa dan raga kami. Karena Engkaulah ilahi kami, dulu, sekarang, nanti; sampai selama-lamanya"

Demikian tadi doa-doa yang dapat kalian panjatkan saat melakukan Doa Altar. Semoga semua yang aku bagikan pada hari ini dapat mendatangkan manfaat kepada kita semua...

Terima kasih kepada Empat Penjaga Langit dan Dua Ilahi: Bapa Angkasa dan Ibu Bumi...

Minggu, 29 Januari 2017

JURNAL #3: Perlukah Kita Menghormati Bumi? Wicca Tahu Jawabannya


Puji Bapa Angkasa, Ilahi yang agung,
Puji Ibu Bumi, Ilahi yang mulia...



Salam para Wiccan,
Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu dilimpahi kemuliaan dari Sang Ibu.

Akhir-akhir ini, di media sosial beredar kabar tentang pembantaian puluhan lumba-lumba di suatu negara di luar sana. Dengan kejinya mereka memburu lumba-lumba yang jumlahnya tidak sedikit itu hingga laut di tepi panatai pun memerah oleh darah lumba-lumba malang. Tidak hanya itu, banyak juga terjadi penebangan hutan secara besar-besaran yang dilakukan oleh oknum-oknum berkepentingan sehingga hutan yang dulunya asri kini menjadi gundul dan gersang. Siapa yang nantinya akan mendapatkan imbas dari penebnagan hutan tersebut? Tentu saja semuanya akan kembali kepada kita, para manusia sendiri. Tapi yang paling dini terkena imbas penebangan hutan itu adalah para penghuni hutan yang kehilangan habitat mereka. Sungguh fenomena yang mengiris hati, terutama bagi mereka-mereka yang mencintai bumi ini.

Nah, dari situ muncullah satu peertanyaan. Perlukah kita menghormati bumi?

Kami para Wiccan, akan menjawab bahwa menghormati bumi adalah bagian dari tujuan hidup kami sebagai Wiccan. Bagi para Wiccan, bumi bukanlah "bumi", tapi lebih kepada seorang "ibu". Bayangkan saja! Apa pun yang kita inginkan, bumi akan memberikannya tanpa imbalan. Emas, berlian, dan batu mulia lainnya, bisa kita ambil dan tidak perlu meminta izin pada bumi yang notabene adalah si empunya semua itu.

Saat kita membutuhkan kayu untuk memenuhi kebutuhan kita, seperti: memangun rumah, bahan bakar, dll, kita pun langsung menebangi hutan yang sejatinya adalah mahkota bagi sang bumi. Hutan-hutan yang kita tebang itu adalah rambut sang ibu dan kita menggundulinya tanpa segan sedikit pun.

Lalu, bagaimana dengan gunung-gunung yang dikeruk itu? Bukit yang dirobohkan? Atau tanah  yang dikeruk dalam-dalam untuk diambil bebatuan di dalamnya?

Tanpa kita sadari, semua yang telah kita lakukan ini suah menjadikan sang ibu menjadi merana. Tidakkah kita asadar bahwa ia sudah merana begitu lama? Ia menangis dalam kesunyian jagad raya, tidakkah kalian merasakan kesedihannya? Untuk sejenak, dengarkanlah rintihannya yang menyayat-nyayat hati. Ia berbicara pada kita melalui bahasa kesenyapan  yang hanya akan kita pahami kalau kita mau masuk ke dalam kesenyapannya.

Sejatinya, bumi ini atau Sang Ibu adalah satu entitas yang maha tinggi dan hadir di dalam setiap materi yang ada di atas bumi ini. Di dalam lumba-lumba yang dibanatai itu, di dalam pohon yang ditebang itu, di dalam gunung-gunung yang dikeruk itu, di dalam air yang tercemar itu, di dalam bintang-bintang yang menghuni hutan, laut, dan langit itu, di dalam tiap tetes air, dan juga di dalam setiap manusia yang hidup.

Setiap makhluk: binatang, manusia, dan pepohonan, semuanya saling terhubung dengan Sang Ibu. Bahkan kita para manusia pun saling terhubung satu sama lain dan berujung kepada Sang Ibu yang satu. Kita semua memang terlahir berbeda: dalam suku, ras, golongan, dll, tapi kita dikandung dalam satu Ibu yang sama.

Para Wiccan sangat menghormati Ibu Bumi, karena itulah untuk menghormati Ibu Bumi biasanaya Coven (kelompok Wiccan) mengadakan kebaktian yang diadakan di tanah terbukan dan menyanyikan pujian-pujian serta doa kepada sang Ibu Bumi. Selain itu, para Wiccan juga akan aktif untuk menjaga bumi ini dengan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang awam untuk menjaga kelestarian bumi.

Wiccan juga manusia biasa, bukan manusia dengan kekuatan super. Kita semua sama dengan orang-orang awam di luar sana. Kita punya hak dan kewajiban yang sama kepada Ibu Bumi, menjaga dan melestarikan alam pemberian Sang Ibu.

Mungkin akan terlontar pertanayaan, seperti ini: bukankah apa yang ada di muka bumi memang harus kita manfaatkan?
Itu benar sekali. Semua yang ada di muka bumi ini adalah anugerah dari Sang Ibu kepada kita semua dan kita diperbolehkan untuk memanfaatkan apa-apa yang ada untuk kemaslahatan kita semua, tentunya semua itu harus dilakukan dengan bijaksana.

Ada pepatah yang mengatakan: Kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah. Ya, itu benar. Tidak hanya kasih Ibu Bumi, tapi juga kasih ibu yang telah melahirkan kita pun sama. Kasih mereka kepada anak-anaknya akan berlangsung sepanjang zaman. Bila kita menghormati ibu yang melahirkan kita, lalu kenapa kita tidak menghormati Ibu Bumi yang juga mengasihi kita? Bila kita memuliakan ibu yang melahirkan kita tiga kali lipat, lalu apa salahnya kalau kita juga memuliakan Ibu Bumi sama mulianya saat kita dimuliakan oleh-Nya.

Di bawah ini adalah lagu pujian kepada Sang Ibu. Hayati dan resapi tiap kata dalam pujian ini, dan dengarakan alunan musiknya yang mengalun lembut selembut belai kasih Ibu.




Semoga yang telah disampaikan di sini bisa menjadi cermin bagi kita semua dan memberikan manfaat ke dalam hidup kita. Semoga Sang Ibu selalu melimpahkan kemuliaannya: hari ini, esok, dan selama-lamanya.



Puji Bapa Angkasa, Ilahi yang agung,
Puji Ibu Bumi, Ilahi yang mulia!

Postingan Populer